Logo Arvegatu

Tristan Kesyandria Ali Pasha, Pejuang Sampah Organik

June 21, 2020
Arvegatu

Pada Hari Lingkungan Hidup Sedunia, 5 Juni 2020, Kompas TV menayangkan kiprah anak ini dengan proyek lingkungan berjalan. Rutinitas aksinya bahkan terus dilakukan selama masa darurat pandemi COVID-19. Tristan Kesyandria Ali Pasha, namanya. Dia anggota pramuka Gugusdepan 02-037 pangkalan SMP Negeri 41 Surabaya.

Proyek Lingkungan Berkelanjutan adalah Mengolah Sampah Organik untuk Budidaya Belatung. Proyek itu dia laksanakan di Perumahan, di Jalan Pandegiling 97 Surabaya. Sampah organik yang diolah tidak hanya sampah organik dari Rumah. Sampah organik itu dari warung dan pujasera di sekitar tempat tinggalnya.

Tristan juga mengambil sampah organik dari Pasar Keputran, Pasar Pandegiling dan Pasar Mangga Dua Surabaya. “Saya membelanjakan belatung untuk mengurai sampah organik. Belatung pengurai sampah organik tercepat, tidak pernah berhenti makan, ”kata Tristan, seperti dikeluarkan dari Jawa Pos, Metropolis, Jumat (29/5/2020).

Tristan memberi pakan budidaya ikan lelenya dengan belatung yang dia beri pakan sampah organik

Ide Mengolah sampah organik untuk budidaya maggot itu bisa setelah sering melihat banyak sampah dibuang di pinggir pertigaan jalan dekat Rumah. Usahanya mengolah sampah organik untuk budidaya belatung tidak juga berhasil. “Sempat mati banyak karena medianya terlalu basah,” ujar putra pasangan Rudi Arif Hermanto dan Ery Yuliana.

Kini, setiap pertemuan, budidaya Trgg membutuhkan bantuan 50 kg sampah organik untuk pakan. Budidaya belatung itu dia lakukan di halaman belakang Rumah. “Saya titip tong untuk mengisi sampah makanan di warung-warung dan ambil (sampah sayuran) di pasar,” terang Tristan.

Namun, Tristan merasakan bahwa mengambil sampah dari warung dan pujasera tidak mudah. Tidak sedikit yang ditolak. Sebab, sebelumnya ada yang memiliki program yang sama tetapi sampah sisa makanan yang sudah terkumpul tidak juga diambil hingga membusuk.

Setiap hari, dia membutuhkan lebih dari 50 kg sampah organik untuk budidaya belatung di Perumahan

“Saya meyakinkan sampai mereka setuju. Mereka kini antusias, ”tutur pramuka penggalang rakit ini. Masyarakat sekitar juga bisa menjual sampah organiknya Rp 2.000 per kilogram. Belatung yang dipanen dengan pakan sampah organik selanjutnya digunakan untuk pakan ikan lele di tempat yang sama.

“Belatung ini digunakan sebagai pakan budidaya ikan lele karena kandungan proteinnya yang sangat tinggi. Di daerah lain bahkan sudah ada yang menggunakan maggot untuk rempeyek, ”kata bocah kelahiran Surabaya, 9 September 2006 yang berkeinginan menjadi pramuka penggalang teladan ini.

Lendir belatung hasil budidaya belatung juga dimanfaatkan untuk pupuk. Tristan mengundang dengan pupuk cair maggot atau pucagot. Bekas makanan maggot juga dimanfaatkan Tristan untuk pupuk. Dia menamainya dengan bekas belatung atau kasgot.

Orang tua tua Tristan dan tiga adiknya sering membantu Tristan melakukan beragam aksi lingkungan hidup berkelanjutan

Produk-produk olahan maggot itu dijual oleh Tristan Kesyandria Ali Pasha secara berani. Hasil penjualannya, digunakan oleh Tristan untuk memberi tahu bahan makanan kepada masyarakat sekitar yang terdampak COVID-19.

“Alhamdulillah bisa membantu 150 bingkisan ditambah uang saku sekolahnya yang tidak terpakai untuk belajar di rumah,” ujar Tristan Kesyandria Ali Pasha, yang bersama-sama pernah mendapatkan penghargaan sebagai Keluarga Nol Terbaik 2019 dari Walikota Surabaya Tri Rismaharini.

Setelah kiprahnya diterbitkan melalui surat kabar Jawa Pos dan Kompas TV, Tristan kini mendapat banyak kunjungan dari individu, keluarga dan sekolah. Mereka tertarik untuk mencoba yang dilakukan oleh Tristan untuk mengolah sampah organik dengan budidaya belatung.

Penulis: Mochamad Zamroni

Hak Cipta oleh Arvegatu.com
Top th-largearrow-circle-o-downarrow-circle-right