Follow ya kak

Sejarah Kepanduan di Indonesia

06/08/2021
Kategori:
Waktu baca : 2 menit

oleh Untung Widyanto *)

Organisasi Gerakan Pramuka berusia 60 tahun pada 14 Agustus 2021. Namun organisasi kepanduan di Tanah Air sudah muncul sejak zaman penjajahan.

Pemerintah kolonial Belanda membentuk Nederlandsche Padvinders Organisatie (NPO) pada 1912. Empat tahun kemudian diubah menjadi Nederlands-Indische Padvinders Vereeniging (NIPV) atau Persatuan Pandu-Pandu Hindia Belanda. Organisasi ini karena pandu-panduan Hindia Belanda dan pribumi dilarang ikut dianggap sebagai aspirasi terhadap kemerdekaan Indonesia.

Meski begitu ada keterangan yang menyebut bahwa NIPV tidak melarang Pandu-Pandu bumiputera untuk jadi anggotanya, asalkan mengikuti persyaratan NIPV. Itu terbukti sejak awal cukup banyak kaum bumiputera yang ikut menjadi Pandu NIPV. Bahkan dalam Jambore Dunia 1937 kontingen NIPV terdiri dari Pandu-Pandu Belanda, kaum bumiputera dari Batavia dan Bandung, Pandu-Pandu Mangkunegaran dari Solo, Pandu-Pandu Tionghoa, Ambon, dan Arab.

Jambore Dunia diselenggarakan dari tanggal 30 Juli sampai 8 Agustus 1920 di Olympia, London, Inggris.

Sultan Pangeran Mangkunegara VII tidak terima dengan perlakuan pemerintah Hindia Belanda. Pada tahun 1916, Mangkunegara VII membentuk Javaansche Padvinders Organisatie. Lalu bermunculan organisasi-organisasi sejenis.

Belanda kemudian melarang organisasi di luar milik Belanda mengguakan istilah Padvinder. Oleh karena itu K.H Agus Salim memperkenalkan istilah “Pandu” atau “Kepanduan”.

Setelah itu muncul organisasi kepanduan berbasis agama, kesukuan dan lainnya. Antara lain Padvinder Muhammadiyah (Hizbul Wathan), Nationale Padvinderij, Syarikat Islam Afdeling Pandu,  Indonesisch Nationale Padvinders Organisatie, Pandu Indonesia, Padvinders Organisatie Pasundan, Pandu Kesultanan, El-Hilaal, Pandu Ansor, Al Wathoni, Tri Darma (Kristaten), Kepanduan Astasten Katolik Indonesia, dan  Kepanduan Masehi Indonesia. Pada tanggal 19-23 Juli 1941 di Yogyakarta berlangsung Jambore Seluruh Indonesia atau “Perkemahan Kepanduan Indonesia Oemoem.”

Pengurus Kepanduan Hizbul Wathan Kwartir Madiun.

Pada 27-29 Desember 1945 berlangsung Kongres Kesatuan Kepanduan Indonesia di Surakarta. Kongres tersebut menghasilkan Pandu Rakyat Indonesia sebagai satu-satunya organisasi kepanduan di Indonesia. Namun, ketika Belanda kembali menyerang pada 1948, Pandu Rakyat dilarang berdiri di daerah-daerah yang dikuasai Belanda. Hal tersebut memicu munculnya organisasi lain, seperti Kepanduan Putera Indonesia (KPI), Pandu Puteri Indonesia (PPI), dan Kepanduan Indonesia Muda (KIM).

Pada perkembangannya, kepanduan Indonesia kemudian terpecah menjadi 100 organisasi yang tergabung dalam Persatuan Kepanduan Indonesia (Perkindo). Namun, jumlah perkumpulan pandu di Indonesia tidak sebanding dengan jumlah anggota perkumpulan. Selain itu masih ada rasa golongan yang tinggi, sehingga membuat Parkindo menjadi lemah.

Untuk mencegah hal itu, Presiden Soekarno mengumpulkan tokoh dan pemimpin gerakan kepanduan Indonesia. Semua organisasi kepanduan yang ada, dilebur menjadi satu dengan nama Pramuka. Presiden menunjuk panitia terdiri atas Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Prijono, Azis Saleh, Achmadi, dan Muljadi Djojo Martono.

Gerakan tersebut diawali dengan kejadian yang saling berkaitan. Pada 9 Maret 1961 diresmikan nama Gerakan Pramuka dan menjadi Hari Tunas Gerakan Pramuka. Pada tanggal 20 Mei 1961, diterbitkan Keputusan Presiden Nomor 238 Tahun 1961 Tentang Gerakan Pramukan dan momen tersebut dikenal sebagai Hari Permulaan Tahun Kerja. Pada 20 Juli 1961, para wakil organisasi kepanduan Indonesia menyatakan pernyataan di Istana Olahraga Senayan, untuk meleburkan diri ke dalam organisasi Gerakan Pramuka. Sehingga disebut sebagai Hari Ikrar Gerakan Pramuka.

Pada tanggal 14 Agustus 1961, dilakukan pelantikan pengurus Gerakan Pramuka di Indonesia dan penganugrahan Panji-Panji Gerakan Pramuka kepada Ketua Kwartir Nasional pertama, Sri Sultan Hamengkubuwono IX. inilah yang membuat Hari Pramuka di Indonesia setiap tanggal 14 Agustus.

***

*) Penulis adalah Andalan Nasional Komisi Kehumasan dan Informatika Kwartir Nasionak Gerakan Pramuka 2018-2023 / Wartawan lepas dan anggota The Society of Indonesian Journalists (SIEJ).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Logo Arvegatu

ARVEGATU

JL VETERAN 37 MALANG

Hak Cipta © 1995 – 2021 oleh Arvegatu.com
magnifiercrosschevron-leftchevron-rightchevron-up-circle linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram